Bali Vape Culture, event yang mengundang semua penggemar dan komunitas vape untuk merayakan pengalaman, pengetahuan, dan perkembangan terbaru vape. Dalam acara ini puluhan tenant menawarkan berbagai jenis perangkat dan aksesoris vape. Dalam kegiatan ini Paguyuban Asosiasi Vape Nasional melaksanakan penandatanganan kode etik industri vape di Harris Hotel & Residences Sunset Road, demi memastikan industri yang bertanggung jawab dan berintegritas

“Penandatanganan kode etik ini merupakan bentuk komitmen, keseriusan, dan niat baik kami, baik dari sisi produsen, toko vapers, dan pengguna vapers, juga memastikan industri vape yang bertanggung jawab dan berintegritas,” ungkap Roy Lefrans, Sekjend Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO) dan CEO NCIG Indonesia.

Penandatanganan Kode Etik Industri Vape

Vape atau rokok elektrik (e-cig) bisa mengurangi risiko hingga 95% dibandingkan rokok konvensional, berdasar penelitian yang dilakukan oleh Public Health England. E-cig pun juga tidak beresidu TAR atau komponen sisa asap rokok.

E-cig dan produk penghantar nikotin elektrik (ENDS) hadir untuk membantu perokok dewasa Indonesia yang mencapai 67 juta orang.

“Sejak pertama kali vape hadir di Indonesia, semangat yang kami bawa adalah produk alternatif pengganti tembakau yang hanya dikhususkan untuk mereka yang berusia 18 tahun ke atas,” ungkap Aryo Andrianto, Ketua Asosiasi Personalized Vaporizer Indonesia (APVI).

“Semangat dan integritas ini tidaklah luntur, pada akhirnya kami tuangkan ke dalam sebuah kode etik yang akan kami jaga,” lanjutnya.

Adapun poin-poin kode etik industri vape demi industri yang bertanggung jawab dan berintegritas yakni:

  1. Vape tidak boleh digunakan, dijual atau diberikan kepada orang yang berusia di bawah 18 tahun, ibu hamil dan menyusui.
  2. Vape hanya digunakan untuk berhenti dari kebiasaan yang lebih merugikan kesehatan.
  3. Menjamin kebenaran informasi kandungan dan bahan-bahan dalam label dan kemasan.
  4. Membantu menjaga industri dari penyalahgunaan produk narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya.
  5. Tidak melakukan kegiatan promosi yang ditujukan konsumen berusia 18 tahun ke bawah.
  6. Mencegah upaya timbulnya pengguna vape baru dengan tidak menawarkan kepada yang bukan perokok.

“Upaya untuk self-regulatory seperti ini sangat kami apresiasi. Apalagi, para pelaku industri Vape telah berkomitmen untuk menjaga industri dari penyalahgunaan produk narkotika dan obat-obatan terlarang lainnya. Kami berharap dengan komitmen yang kuat dari para pelaku ini juga akan membawa dampak positif pada pemberantasan narkoba di tanah air,” Kombes. Pol Ida Bagus Komang Ardika S.H, Direktur Narkoba Polda Bali mengungkapkan apresiasinya. [/N]

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published.